Air Pollution: The Worst Comeback

 

  • Tidak ada satupun negara di dunia yang memenuhi standar kualitas udara sehat menurut WHO.

  • Polusi udara di Jakarta sempat menduduki peringkat 4 dunia.

  • Menggunakan pembersih udara menjadi solusi yang paling ideal untuk menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Dalam masa transisi kembali normal setelah pandemi Covid-19, sangat menyenangkan kita dapat melihat kembali berbagai aktivitas berjalan normal, seperti sekolah, perkantoran, perhotelan, hingga traveling. Namun di tengah kembalinya berbagai kegiatan menjadi normal, ada satu hal yang tidak diharapkan ikut kembali, yaitu polusi udara. Setelah mengalami perbaikan sementara sewaktu masa PSBB dan PPKM di kala pandemi Covid-19, tingkat polusi udara di ibukota kini kembali memburuk, bahkan lebih buruk dari sebelum pandemi melanda. Ironisnya, hal ini tidak hanya terjadi di ibukota Jakarta saja, studi menyatakan bahwa berdasarkan data polusi udara, tidak ada satupun negara di dunia yang memenuhi standar kualitas udara sehat menurut WHO.

 

 

Studi yang sama menyatakan bahwa pada tahun 2021, hanya ada 3,4% kota yang memenuhi standar WHO atas tingkat PM2.5 di udara, yaitu kurang dari 5 microgram per meter kubik (< 5 µg/m3). Tapi nyatanya, mayoritas melebihi standar tersebut, bahkan setidaknya 10x lebih buruk dari standar yang direkomendasikan.

 

Bagaimana dengan Jakarta?

 

 

Berdasarkan data pantauan kualitas udara oleh Blueair, tingkat PM2.5 di Jakarta per tanggal 13 April 2022 mencapai angka 156 µg/m3 atau 30x lebih buruk dari standar yang direkomendasikan WHO. Rangkuman data atas pantauan kualitas udara ini berhasil membuat Jakarta menduduki peringkat 4 sebagai negara dengan kualitas udara terburuk di dunia.

 

 

Kembali beraktivitas normal seperti kembali pergi ke kantor, kembali ke sekolah, dan sebagainya, membuat volume kendaraan di jalan meningkat secara signifikan. Akibatnya, tingkat polusi udara akibat emisi kendaraan meningkat pula. Selain itu, penyumbang polusi udara lainnya adalah dari sektor industri, berupa emisi dari cerobong asap pabrik berbahan bakar minyak bumi, gas alam dan batu bara pembangkit listrik.

 

 

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa permasalahan udara ini hanya berdampak pada lingkungan luar (outdoor), namun faktanya, kualitas udara di dalam ruangan justru jauh lebih buruk daripada udara di luar ruangan, bahkan studi menyatakan bahwa kualitas udara dalam ruangan bisa mencapai 5x lebih buruk. Asap rokok, asap dari memasak (goreng, bakar atau panggang), dan udara kotor yang masuk dari luar ruangan merupakan sumber polutan PM2,5 yang dapat membahayakan anggota keluarga kita yang berada di dalam ruangan, selain itu, bahan-bahan kimia yang sering kita pakai sehari-hari seperti karbol, parfum, dan pengharum ruangan juga tanpa disadari merupakan penghasil VOC di ruangan kita. Tidak hanya itu, bahkan anabul kesayangan kita pun bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas udara dalam ruangan lho, baik dari bulu, dander maupun baunya.

 

 

Dengan melihat kondisi tersebut, maka salah satu cara yang paling efektif untuk mengurangi paparan polusi udara adalah dengan menjaga kualitas udara di dalam ruangan, selain karena sulit mengontrol udara di luar ruangan, kita juga meluangkan lebih banyak waktu di dalam ruangan.

Menggunakan alat pembersih udara yang berkualitas dapat menjadi solusi untuk mengurangi polutan berbahaya di ruangan kita. Cermat dalam memilih pembersih udara dapat menjadi solusi terbaik dalam menjaga kualitas udara dalam ruangan. Selain berbasis filter HEPA yang dapat menangkap partikel mikroskopik PM2,5, debu, virus dan bakteri, sebaiknya pembersih udara yang Anda gunakan juga memiliki karbon aktif untuk menyerap bau, gas, serta VOC. Tak kalah penting juga adalah pastikan pembersih udara yang digunakan tidak menambah tingkat polusi atau menghasilkan zero ozone, seperti semua pembersih udara Blueair yang sudah tersertifikasi bebas ozon!

 

 

Share: