Pro Kontra Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Pandemi

 

  • Pembelajaran jarak jauh memberikan dampak menurunnya kualitas belajar pada anak.

  • Walaupun masih di tengah situasi pandemi, pembelajaran tatap muka perlahan namun pasti akan kembali dilaksanakan.

  • Selain protokol kesehatan dan vaksinasi, sarana dan prasarana penunjang protokol kesehatan di sekolah harus menjadi sorotan dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

 

Duduk di depan layar sudah menjadi rutinitas yang tidak terelakkan bagi para pelajar di masa pandemi, karena tuntutan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebagian melihat perubahan ini sebagai suatu anugerah, karena kebijakan ini memberikan kesempatan untuk belajar lebih disiplin mengatur waktu dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbagai kesempatan lainnya. Sebagian kelompok lainnya melihat kebijakan ini sebagai sesuatu yang disayangkan, karena sekolah yang awalnya menjadi tempat dan waktu berinteraksi dengan guru dan teman, seolah menjadi sirna karena interaksi online tidak terasa nyata.

Pelonggaran kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat saat ini sudah mulai diterapkan; PPKM turun level, pusat perbelanjaan kembali dibuka, makan di tempat sudah diizinkan, dan sebagainya. Perlahan namun pasti, seperti juga dipaparkan oleh Menkes, kita harus memiliki strategi untuk hidup berdampingan bersama epidemi. Maka, pembelajaran tatap muka (PTM) pun pasti akan kembali diberlakukan. Kemudian, hal ini tentu melahirkan berbagai kekhawatiran mengenai keamanan untuk para pelajar melakukan kegiatan di sekolah. Apakah sebaiknya PTM segera diterapkan kembali? Bagaimanakah cara menciptakan lingkungan PTM yang aman dan nyaman di dalam situasi pandemi?

 

Dampak Pembelajaran Jarak Jauh

 

 

Sebelum memutuskan apakah kegiatan belajar mengajar perlu dilakukan kembali di sekolah, sebenarnya apa sajakah dampak yang dirasakan selama ini dari PJJ? Bagi pelajar atau murid, belajar online tentu terasa berbeda. Selain kehilangan momen untuk berinteraksi langsung dengan pengajar dan teman, para pelajar cenderung menjadi kehilangan motivasi dalam belajar. Terutama pada usia yang belum dewasa, kurangnya pengawasan dari guru dapat menurunkan rasa tanggung jawab untuk aktif belajar jarak jauh. Walaupun demikian, terlalu banyak diperhatikan oleh orang tua di rumah juga dapat memicu depresi dan stres pada anak. Selengkapnya dipaparkan langsung oleh para pelajar di artikel sebelumnya.

Lalu dengan adanya dampak tersebut, apakah berarti kini saatnya diberlakukan PTM? Merupakan suatu tantangan tersendiri untuk kembali melakukan PTM di tengah pandemi. Risiko penularan di klaster sekolah tentu menjadi suatu kekhawatiran. Melandainya kurva penularan Covid19 setelah diberlakukannya PPKM darurat dan PPKM level 4 menjadi dorongan untuk kembali melakukan PTM. Mendikbud turut gencar ingin kegiatan PTM kembali segera dilaksanakan, mengingat terjadi penurunan capaian belajar atau learning loss dan efek psikologis pada anak. Menurutnya, sekitar 63% sekolah sudah dapat melakukan PTM terbatas, yaitu sekolah yang berada di area PPKM level 1, 2 dan 3.

 

Protokol untuk Melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka

Menurut Presiden RI, vaksinasi pada pengajar dan pelajar adalah salah satu prasyarat untuk kembali dilaksanakannya PTM. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) turut menekankan bahwa vaksinasi hanya salah satu dari empat prasyarat diberlakukan PTM terbatas. Ketiga lainnya adalah sarana dan prasarana penunjang protokol kesehatan, tingkat kasus positif dan izin orang tua.

Potensi penularan tentu harus diminimalisir sebaik-baiknya. Jika ditelaah lebih dalam, potensi penularan dari kembali diberlakukan PTM terutama dapat terjadi apabila sarana dan prasarana di sekolah tidak menunjang, karena anak-anak cenderung lebih acuh dalam menaati protokol kesehatan. Mereka akan dengan mudah melepas masker ketika merasa pengap atau tidak nyaman, dengan mudah menyentuh mulut atau hidung sebelum memastikan tangan bersih, dan lain sebagainya. Maka, upaya yang perlu diperhatikan adalah tentu saja protokol kesehatan ketat seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak. Tidak lupa, untuk meminimalisir penularan, alangkah baiknya jika dilaksanakan tes rutin, baik untuk pelajar maupun pengajar.

 

 

Selain itu, seperti sudah sering kita dengar, penting untuk menjaga ventilasi ruangan sehingga terjadi pergantian udara. Namun di dalam gedung sekolah dengan fasilitas pendingin ruangan, ventilasi biasanya tidak memadai. Salah satu upaya yang penting diterapkan adalah menggunakan pembersih ruangan yang sesuai dengan kebutuhan ruangan, terutama ruangan kelas di mana murid paling sering menghabiskan waktu. Pembersih ruangan yang digunakan harus memiliki spesifikasi yang mumpuni, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara yang mengganggu kegiatan belajar dan dapat menghasilkan udara bersih (CADR) yang cukup banyak untuk 4,8 kali pergantian udara setiap jam, sesuai dengan rekomendasi AHAM.

 

 

Jangan lupa bahwa potensi penularan bukan hanya terjadi di dalam kelas dan di area sekolah, tetapi bisa juga di perjalanan. Ingat bahwa keluarga sendiri pun dapat secara tidak sadar menjadi sumber penularan, terlebih lagi supir atau ART. Ketika mengantar jemput anak dari sekolah, bahkan menggunakan kendaraan pribadi pun menjadi tidak aman. Sama seperti ruangan tertutup pada umumnya, kendaraan pun sebaiknya dilengkapi dengan pembersih udara yang sesuai untuk ruangan. Pastikan pembersih udara untuk kendaraan dapat menghasilkan udara yang banyak untuk 5x pergantian udara setiap jam. Sesuai yang dipaparkan oleh CDC, dikombinasikan dengan masker, penggunaan pembersih udara berbasis HEPA filter di ruangan tertutup dapat menurunkan risiko penularan hingga 90%.

Pada akhirnya, penularan Covid-19 dapat terjadi dimana saja. Di rumah, di tempat kita merasa paling aman, dapat menjadi tempat penularan. Hal terpenting untuk kita lakukan adalah tetap menjaga protokol kesehatan, menciptakan lingkungan yang sehat, dan terus menjaga pola hidup sehat.

 

 

SOLUTIONS

 

Share: