Akibat Polusi Udara, Usia Warga Jakarta Berkurang 6 Tahun, Warga Bandung 7 tahun!

 

  • Penurunan tingkat harapan hidup akibat polusi udara lebih tinggi dibandingkan dengan penyakit berbahaya lainnya.

  • Peningkatan kualitas udara dapat dilakukan dengan menerapkan pembatasan penggunaan bahan bakar fosil di berbagai lapisan kegiatan masyarakat.

  • Berbagai pilihan sederhana untuk mengurangi paparan polusi udara dalam kegiatan sehari-hari, dapat membantu memperpanjang usia.

 

Berbicara tentang polusi udara, seperti tidak pernah terlihat titik terangnya. Hingga kini, polusi udara telah memangkas bertahun-tahun usia miliaran manusia di dunia. Seringkali kita fokus pada bahayanya penyakit-penyakit seperti HIV/AIDS, malaria, TBC atau bahaya merokok dan mengabaikan bahayanya polusi udara. Bahkan kita dengan acuh, terus berkontribusi pada penambahan polusi udara; tidak bertanggung jawab atas pemakaian bahan bakar kendaraan, listrik, atau sesederhana atas sampah rumah tangga. Padahal, penurunan tingkat harapan hidup akibat polusi udara sama parahnya atau bahkan lebih tinggi daripada ancaman berbagai penyakit berbahaya lainnya. Paparan terhadap polusi udara dapat menjadi faktor pendorong parahnya atau kritisnya suatu penyakit.

 

 

Studi menyatakan bahwa warga Jakarta berpotensi kehilangan 6 tahun masa hidupnya karena polusi udara. Sedangkan kota Bandung yang berada di dataran tinggi dengan iklim yang lebih sejuk, walaupun memberi ilusi memiliki kualitas udara yang baik, ternyata lebih parah dari Jakarta, dimana pada rata-rata warga Bandung diperkirakan akan kehilangan 7 tahun masa hidupnya. Bukan hanya mengganggu kesehatan fisik, polusi udara juga mengganggu kesehatan mental. Walaupun sulit untuk diformulasikan, berbagai studi meyakini bahwa terdapat korelasi erat antara dampak polusi udara terhadap kesehatan mental.

 

 

WHO telah memaparkan bahwa 91% populasi dunia hidup di tengah level polusi udara yang melebih batas aman. Tanpa disadari, kita hidup di tengah paparan polusi udara berbahaya, yang kini dikenal umum sebagai PM2,5. Sumber dari polusi udara ini seringkali berasal dari penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan, baik untuk penggunaan industri maupun rumah tangga. Peraturan dan kebijakan dari pemerintah untuk membatasi kegiatan masyarakat yang menyebabkan polusi tinggi dapat membantu memperbaiki kualitas udara.

 

Belajar dari China

 

Memang melelahkan hidup di tengah polusi udara, bernapas pun menjadi tidak bebas, tapi kita tetap bisa mengambil bagian dalam melawan polusi. Sebagai gambaran, kita bisa belajar dari pemerintah China. Pada tahun 2008 lalu, ketika hendak dilaksanakan Olimpiade Beijing, pemerintah China menerapkan kebijakan ketat untuk mengendalikan polusi udara, karena polusi udara dipercaya berdampak negatif pada performa atlet. 300.000 kendaraan berpolusi tinggi tidak lagi digunakan, kegiatan konstruksi besar dihentikan, dan ratusan pabrik dan pembangkit listrik ditutup. Selain secara signifikan meningkatkan kualitas udara, semua kebijakan ini juga berhasil menurunkan jumlah kematian akibat penyakit jantung dan pernapasan.

 

 

Meski masih tergolong dalam kategori negara yang berpolusi tinggi, keberhasilan China dalam menurunkan tingkat polusi dalam kurun waktu 6 tahun, patut diacungi jempol. Penurunan ini setara dengan pencapaian Amerika Serikat yang diupayakan dalam beberapa dekade! Bukti lain yang dapat kita lihat adalah bagaimana pembatasan kegiatan di masa pandemi yang diberlakukan turut membantu meningkatkan kualitas udara terutama di kota-kota besar, dimana kegiatan bisnis sangat padat terjadi sebelumnya.

 

Cara mendapatkan umur kita kembali

 

 

Seperti dilansir dari Halodoc, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan imun tubuh kita dan berbagai cara untuk menghindari atau mencegah masuknya polusi ke dalam sistem pernapasan dan ke dalam tubuh kita, antara lain:

  • Memakai masker - di tengah pandemi seperti ini, memakai masker memang merupakan kewajiban. Namun sesungguhnya, memakai masker juga dapat membantu kita mengurangi paparan polusi udara, lho! Terutama bagi para pekerja yang harus berjalan atau naik motor dan secara langsung berhadapan dengan emisi kendaraan bermotor, memakai masker bisa menjadi level pencegahan pertama.

  • Mengatur aktivitas luar ruangan - memang di masa pandemi ini, seringkali kita mendengar anjuran untuk membuka jendela dan ventilasi, padahal di tengah kondisi polusi udara saat ini, beraktivitas di luar ruangan pun bisa membahayakan. Terutama di malam hari, tingkat polusi udara biasanya lebih buruk. Oleh sebab itu, kita harus lebih cermat dalam mengatur waktu melakukan aktivitas di luar ruangan.

  • Menggunakan pembersih udara - tidak hanya polusi udara di luar ruangan yang berbahaya, nyatanya, polusi udara di dalam ruangan bisa 2-5x lebih berbahaya. Saat kualitas udara sedang dalam kondisi yang buruk, pencegahan terkontrol yang dapat kita lakukan adalah menggunakan pembersih udara untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan. Terutama pembersih udara berbasis HEPA yang sudah teruji dapat menghilangkan partikel terhalus seperti PM2,5 seperti pembersih udara Blueair dan Stadler Form adalah pilihan yang bijak.

Mari bersama kita berkontribusi mengurangi polusi untuk memperpanjang usia kita. Berkurangnya polusi dapat memperpanjang hidup dan hal ini sudah dibuktikan melalui riset yang menyatakan bahwa akibat dari berkurangnya paparan polusi udara hingga 62% di Amerika dibandingkan tahun 1970 dan 27% di Eropa dalam 2 dekade terakhir, harapan hidup meningkat hingga 4 bulan.

 

 

SOLUTIONS

 

Share: