Hygiene Theater: Perlukah Disinfeksi Ruangan?

 

  • Hygiene theater adalah ungkapan yang digunakan untuk merujuk pada upaya kebersihan yang tidak memberikan efek pencegahan penularan Covid-19 yang berarti.

  • Selain membuat lengah karena merasa aman akibat hygiene theater, penggunaan bahan kimia untuk tindakan kebersihan yang berlebihan berdampak negatif pada kesehatan.

  • Untuk proteksi terus menerus, kombinasi protokol kesehatan dan penggunaan pembersih udara di dalam ruangan adalah kunci penting dalam mencegah penularan Covid-19.

 

Ingatkah Anda di awal masa pandemi, berbagai video dan informasi bermunculan tentang anjuran kebersihan atas barang-barang yang kita sentuh untuk menghindari adanya kontaminasi dari virus corona? Berbagai pihak termasuk ahli kesehatan, seperti dokter, pada waktu itu turut memberikan pengarahan tentang bagaimana kita harus menjaga kebersihan atas barang yang kita sentuh apalagi konsumsi, termasuk barang belanjaan kebutuhan sehari-hari, seperti makanan kaleng, kotak sereal, hingga sayuran.

Tidak jarang kita jumpai bahkan saat berbelanja di pasar swalayan, pengunjung menyemprotkan keranjang belanja dengan disinfektan bahkan menggunakan sarung tangan plastik saat berbelanja. Ironisnya, semua tindakan kebersihan ini hanyalah ilusi untuk memberikan rasa aman semata, atau dikenal dengan sebutan hygiene theater.

 

Apa itu hygiene theater?

Hygiene theater adalah segala praktik tindakan kebersihan yang dimaksudkan untuk memberikan ilusi rasa aman, dimana sebenarnya tidak diperlukan. Ungkapan ini diciptakan oleh seorang penulis dari The Atlantic, untuk menjelaskan upaya kebersihan yang sebenarnya tidak terlalu memberikan efek pencegahan penularan Covid-19 yang berarti, malah sebaliknya, memberikan ilusi rasa aman yang dapat membahayakan atau membuat lengah.

 

 

Beberapa contoh hygiene theater kerap kita temukan di tempat umum, misalnya di restoran. Semenjak era new normal, pelaku bisnis kuliner menerapkan protokol kebersihan yang ekstensif seperti melakukan disinfeksi permukaan dan ruangan sebelum dan sesudah diisi oleh pengunjung, memberi sekat pada meja untuk membatasi antar pengunjung, hingga memastikan karyawan menggunakan sarung tangan dan faceshield saat melayani pengunjung.

Selain itu, ingatkah Anda di masa awal pandemi melanda Indonesia, permintaan atas berbagai produk hand sanitizer berbasis alkohol sangat meningkat, bahkan banyak tutorial yang mengajarkan untuk membuat sendiri cairan pembersih? Berbagai jenis disinfektan bermunculan tidak hanya digunakan untuk membersihkan tangan, tapi juga digunakan untuk membersihkan permukaan bahkan disemprotkan ke pakaian, area rumah, sampai seluruh kota.

 

 

Dampak dari hygiene theater

Seperti yang pernah dibahas di artikel sebelumnya, risiko penularan Covid-19 yang paling rendah adalah melalui fomites, yaitu penularan yang terjadi akibat menyentuh benda atau permukaan yang terkontaminasi oleh virus dari orang yang terinfeksi. Namun begitu, seringkali upaya kebersihan yang dilakukan fokus pada kebersihan permukaan dan menciptakan hygiene theater. Tidak jarang, upaya-upaya ini dengan sengaja dilakukan saat ada pengunjung. Dengan menciptakan panggung pertunjukkan atas berbagai tindakan kebersihan ini, orang-orang cenderung memiliki rasa aman, tidak menutup kemungkinan, protokol kesehatan wajib seperti memakai masker dan mencuci tangan jadi dilupakan. Hal ini lah yang membahayakan, karena orang-orang menjadi lengah dan risiko penularan melalui droplets dan aerosol menjadi tinggi.

 

 

Selain membuat lengah karena sudah merasa aman, ternyata penggunaan disinfektan yang berlebihan dapat memberikan efek samping atau dampak buruk pada kesehatan. Penggunaan disinfektan yang berlebihan malah dapat memicu iritasi, menimbulkan bau dan mengganggu pernapasan. Walaupun proses penggunaan disinfektan tergolong instan dan mudah, tetapi residu yang ditinggalkan dapat memberikan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Misalnya saja penggunaan cairan pembersih berbasis alkohol untuk alat makan, bukan kebersihan yang didapat, melainkan residu kimia yang tertinggal pada alat makan tersebut ikut masuk ke dalam tubuh dan menjadi berbahaya bagi kesehatan. Tidak hanya itu, orang-orang cenderung mengabaikan bahwa efek dari kebersihan yang dihasilkan dari tindakan pembersihan menggunakan disinfektan hanya sementara. Ketika suatu permukaan atau ruangan terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi setelah proses disinfeksi selesai, maka risiko penularan tentu menjadi lebih tinggi dan efek dari disinfektan sudah tidak berlaku lagi.

 

Lakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk setiap kondisi

Penggunaan disinfektan tentu memiliki manfaat tersendiri apabila digunakan dengan cara yang tepat, misalnya untuk membersihkan secara berkala permukaan yang lebih berisiko menjadi sumber penularan seperti gagang pintu, tombol lift, atau saklar lampu. Namun begitu, mengikuti protokol kesehatan wajib dari pemerintah yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan adalah hal utama yang paling penting dilakukan. Selain turut serta membantu menurunkan potensi penularan virus, kita sekaligus memberikan proteksi pada diri sendiri dan keluarga kita. Tidak hanya itu, dengan tersedianya vaksin untuk umum, kita wajib memanfaatkan kesempatan ini untuk semakin menurunkan potensi penyebaran virus dengan meningkatkan antibodi pada masing-masing individu.

 

 

Untuk proteksi yang terus menerus dari risiko penularan, menjaga kualitas udara yang baik dan bersih dari virus dan polusi adalah salah satu tindakan yang bijaksana. Penggunaan pembersih udara di dalam ruangan, baik di rumah, di kantor, maupun di area publik adalah bentuk antisipasi penularan virus melalui transmisi aerosol yang paling memadai. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) turut menyarankan penggunaan pembersih udara untuk ruangan tertutup. Dalam pemilihan pembersih udara, selain mengetahui kemampuan filtrasi nya, penting pula untuk menyesuaikan kebutuhan luas ruangan dengan nilai udara bersih yang dihasilkan (CADR) berdasarkan penilaian yang terpercaya dari AHAM.

Dikombinasikan dengan penggunaan masker, menyalakan pembersih udara di dalam ruangan tertutup mampu menurunkan risiko penularan hingga 90%. Pastikan pembersih udara yang Anda gunakan memberikan informasi yang jujur dan terpercaya atas klaim yang dipaparkan. Untuk memiliki kualitas udara yang baik, AHAM merekomendasikan 5 kali pergantian udara setiap jam. Pembersih udara Blueair dan Stadler Form telah diuji independen oleh AHAM dan memberikan klaim luas ruangan yang sesuai.

 

 

SOLUTIONS

 

Share: