Kesehatan Mental Terganggu Akibat Polusi Udara #WorldMentalHealthDay

 

  • Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, nyatanya keduanya memiliki keterkaitan erat.

  • Selain faktor internal seperti kondisi fisik, faktor eksternal seperti kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi kesehatan mental.

  • Polusi udara dapat memberi dampak negatif pada kesehatan mental sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan.

 

Berbicara tentang kesehatan, seringkali kita langsung merujuk pada kesehatan fisik. Padahal kesehatan mental sebenarnya dinilai sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Untungnya, saat ini kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sudah mulai meningkat, meskipun penanggulangan tenaga dan layanan kesehatan untuk kesehatan mental masih minim. Maka, saat ini peran diri kita sendiri dalam menjaga kesehatan mental adalah salah satu bentuk preventif terbaik yang dapat dilakukan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, baik internal maupun eksternal. Salah satu faktor yang paling diabaikan adalah polusi udara.

 

 

Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Terdapat banyak faktor internal yang dapat mempengaruhi kesehatan mental seperti kondisi fisik, pertumbuhan dan perkembangan, hingga kondisi psikologis. Contoh sederhana adalah ketika kita tidak menjaga pola hidup yang sehat, misalnya dengan tidak cukup beristirahat, kita akan lebih mudah merasa lelah, kesulitan untuk fokus, tidak dapat mengerjakan tugas dengan optimal, dan akhirnya depresi karena memiliki beban pikiran. Faktor internal seperti ini tentu sudah sering kita dengar, walaupun kerap kali diabaikan.

Yang menarik adalah adanya faktor eksternal yang tidak umum dibicarakan. Selain kondisi sosial dan ekonomi, ternyata kondisi lingkungan juga diteliti memiliki korelasi terhadap kesehatan mental, contohnya polusi udara. Studi dari Yale School of Public Health menyatakan bahwa meningkatnya polusi udara memiliki pengaruh positif terhadap pemanfaatan layanan kesehatan mental. Studi yang sama memaparkan bahwa kunjungan pasien rawat jalan lebih tinggi pada hari-hari yang paparan polusi udara nya lebih tinggi. Dari hasil studi ini, kita dapat melihat bahwa terdapat korelasi antara polusi udara dan kesehatan mental.

 

Paparan polusi udara bukan kita temukan di ruang terbuka seperti di jalan raya saja. Polusi udara dalam ruangan nyatanya bisa 5 kali lebih buruk dan tanpa disadari, 90% waktu kita dihabiskan di dalam ruangan! Studi dari Harvard menyatakan bahwa polusi udara dalam ruangan dapat membuat kita semakin bodoh, lebih lambat pada tes kognitif dan lebih mudah teralihkan atau tidak fokus. Dalam lingkungan kantor yang tertutup dan padat pekerja, selain dipenuhi polusi udara yang masuk dari luar, udara di gedung perkantoran cenderung terperangkap dan diperburuk dengan hembusan karbon dioksida dari semua orang di dalamnya.

Tidak hanya di lingkungan kantor, dampak polusi udara juga bisa memberi dampak pada kesehatan fisik dan mental kita walaupun berdiam di rumah saja. Berbagai pembatasan kegiatan yang memaksa kita melakukan berbagai aktivitas dari rumah, misalnya bekerja dan belajar dari rumah, ternyata dapat mengganggu kesehatan mental. Data dari CDC menunjukkan bahwa gejala gangguan kecemasan dan depresi naik secara signifikan setelah pandemi. Hal ini juga didukung dengan data dari riset terhadap karyawan oleh HR Exchange yang menyatakan bahwa tingkat kelelahan karyawan meningkat dari 42% di tahun 2019 menjadi 72% di tahun 2020. Tekanan dari pekerjaan kemudian mulai mempengaruhi kehidupan pribadi, mood, bahkan kesehatan mental.

 

 

Tidak hanya dalam lingkup pekerjaan pada umur orang dewasa, kesehatan mental sangat penting diperhatikan sejak dini. Paparan polusi udara dapat mempengaruhi kondisi mental anak bahkan sejak dalam kandungan. Riset menyatakan, paparan polusi udara pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko munculnya Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada buah hatinya. Riset lain turut menjelaskan bahwa polusi udara memiliki dampak negatif pada anak-anak, yaitu dengan adanya penemuan bahwa anak-anak dengan autisme lebih mungkin ditemukan tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi.

 

 

Untungnya, permasalahan polusi udara, terutama di dalam ruangan dapat diatasi dengan menggunakan pembersih udara ruangan yang berkualitas. Pembersih udara Blueair dengan teknologi HEPASilent™ mampu menyaring 99,97% partikel tidak kasat mata hingga ukuran 0,1 mikron. Kombinasi unik filtrasi mekanikal dan elektrostatik pada pembersih udara Blueair dapat menghasilkan udara bersih yang lebih banyak dengan lebih hemat energi dan rendah suara, sehingga tidak mengganggu aktivitas. Kesehatan mental dan perkembangan kognitif mungkin memang tidak langsung membaik beriringan dengan hilangnya polusi udara, karena efek dari polusi udara bisa memiliki efek berkepanjangan. Namun apabila tidak segera diatasi, malah dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental seperti gangguan kecemasan dan depresi permanen.

 

 

SOLUTIONS

 

Share: