Polusi Udara di Tengah Pandemi Covid-19

 

  • Maraknya Covid-19 menggantikan isu polusi udara yang tak kunjung usai ditanggulangi

  • Selain membuat sistem imun menjadi lebih lemah, meningkatnya jumlah polutan berbahaya memiliki kaitan dengan meningkatnya jumlah kematian pasien Covid-19.

  • Biarpun tertutup dan terasa bersih, kualitas udara di dalam ruangan ternyata bisa 2-5x lebih buruk.

 

Sudah lebih dari satu tahun terakhir, setiap berbicara mengenai kesehatan udara, Covid-19 kerap menjadi perhatian publik. Padahal kesehatan udara sudah menjadi bahan perbincangan jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda. Pada tahun 2019, sekelompok warga ibu kota menggugat pemerintah atas memburuknya kualitas udara didukung dengan data dan studi tentang dampak negatif polusi udara bagi kesehatan kita (kualitas udara di kota Anda dapat dilihat melalui Airview by Blueair). Namun begitu, belum selesai ditindaklanjuti, isu ini seperti terlupakan dan fokus mulai beralih seiring maraknya pandemi Covid-19 di akhir tahun yang sama.

 

Berbagai studi menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 yang melanda dunia satu tahun terakhir ini memperlihatkan betapa rentannya manusia yang hidup di wilayah dengan polusi udara. Dilansir dari National Geographic (2021), para ilmuwan yang mempelajari tentang virus Corona menyatakan bahwa orang yang hidup di area yang terpolusi cenderung lebih rentan terhadap penyakit kronis dan tentunya lebih rawan terhadap Covid-19. Ditambah lagi, polusi udara membuat sistem imun menjadi lebih lemah. Menurut data dari WHO, secara global, polusi udara menyebabkan tujuh juta kematian dini – lima kali lebih banyak dibandingkan kecelakaan lalu lintas!

Para ilmuwan dalam sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa terdapat kaitan antara peningkatan polutan berbahaya dengan peningkatan jumlah kematian pasien Covid-19. Peningkatan ini dipastikan benar-benar karena buruknya tingkat polutan berbahaya, bukan karena perbedaan strata sosial atau alasan kesehatan lainnya. Kemungkinan yang melatarbelakanginya adalah terbentuknya tekanan atau stres sistem pernapasan sehingga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit parah akibat Covid-19. Penemuan ini juga menjadi bukti pendukung bahayanya PM2,5, atau partikulat mikroskopik yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer. Para ilmuwan mendapati partikel ini dapat masuk ke aliran darah, jantung, otak dan plasenta.

Tidak hanya itu, hal ini didukung dengan hasil riset dari Harvard pada tahun 2020 yang menyatakan bahwa wilayah dengan polusi udara tinggi, di mana 80% di antaranya adalah perkotaan, mencatatkan angka meninggal dunia akibat Covid-19, 4,5x lebih tinggi dibandingkan daerah yang kualitas udaranya baik.

 

Bagaimana kita dapat menyikapi polusi udara di tengah pandemi Covid-19?

Rata-rata 90% waktu kita sehari-hari dihabiskan di dalam ruangan, terlebih saat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar yang lalu. Terkadang kita merasa acuh dengan polusi udara karena menghabiskan lebih banyak waktu dalam ruangan. Faktanya, kualitas udara di dalam ruangan bisa 2-5x lebih buruk dibandingkan di ruangan terbuka. Faktor yang dapat menjadi sumber polusi udara di dalam rumah adalah asap rokok, menyalakan lilin, menggoreng makanan, dan penggunaan bahan-bahan kimia, misalnya cairan pembersih dan sebagainya.

 

Saat menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi di rumah, tentunya hanya yang terbaik yang kita inginkan. Selain rajin membersihkan rumah dan memiliki ventilasi untuk sirkulasi udara yang baik, yang dapat kita lakukan untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan adalah menggunakan pembersih udara atau air purifier.

Dengan menggunakan pembersih udara, debu, bakteri, dan virus dapat tersaring, sehingga menghasilkan udara bersih untuk dihirup. Pembersih udara Blueair HealthProtect™ seri 7770i merupakan salah satu pembersih udara yang dapat menghasilkan udara bersih (CADR) >675m3 dan teruji efektif membersihkan ruangan hingga 62 m2 (berdasarkan 5x perputaran udara per jam). Dengan basis riset dan pengembangan intensif, Blueair memastikan filtrasi dari seri HealthProtect™ mampu menyaring 99.97% partikel dan polutan sekecil 0.1 mikron, menyerap asap rokok, bau, dan gas, serta membunuh 99% kuman yang terperangkap pada filter melalui teknologi HEPASilent™. Tidak hanya itu, walaupun dalam kondisi standby, teknologi GermShield™ yang diterapkan dalam unit memberikan perlindungan dari virus dan bakteri 24/7. Untuk hasil yang maksimal, udara bersih hasil filtrasi disebarkan ke seluruh sudut ruangan melalui teknologi SpiralAir™.

 

Selagi isu polusi udara belum dapat ditanggulangi, peran kita sangat penting untuk kesehatan diri dan keluarga kita sendiri.

 

 

SOLUTIONS

 

 

Share: